Tampilkan postingan dengan label Software. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Software. Tampilkan semua postingan

Virus Stuxnet

Kamis, 07 Oktober 2010
Virus Stuxnet adalah sebuah virus komputer canggih bernama Stuxnet telah menyerang 30 ribu penyedia layanan internet atau provider internet yang sasarannya adalah industri tenaga nuklir Iran. Demikian dikatakan pakar keamanan dunia maya, Ahad (26/9).

Virus Stuxnet ini diduga sengaja diciptakan oleh sebuah organisasi yang disponsori Israel dan Amerika Serikat. Serangan virus pada Sabtu silam ini memunculkan spekulasi bahwa Israel dan AS sengaja menyabotase fasilitas nuklir tersebut.

Virus komputer yang rumit dan berbahaya bernama Stuxnet menyusupi komputer milik para staf stasiun pembangkit tenaga nuklir pertama Iran, Bushehr. Virus Stuxnet tersebut mampu merebut kendali pembangkit tersebut.


Namun, menurut manajer produksi Mahmoud Jafari sistem operasi di stasiun pembangkit nuklir Bushehr, yang dijadwalkan akan online dalam beberapa minggu ini, tidak "terinfeksi".

Beberapa ahli komputer dari negara Barat mengatakan kerumitan virus ini mengisyaratkan bahwa penyusupan virus hanya bisa dilakukan oleh sebuah "negara".


Pihak Barat mengkhawatirkan bahwa tujuan utama Iran adalah membangun senjata nuklir. Sementara Iran selalu mengatakan tujuan program itu benar-benar untuk menghasilkan energi untuk kepentingan damai.

Stuxnet dirancang untuk menyerang kelemahan sistem pada peralatan buatan Siemens yang digunakan untuk mengatur pasokan air, anjungan pengeboran minyak dan pembangkit tenaga listrik.

Jafari mengatakan fakta bahwa Stuxnet sekarang bisa dideteksi di komputer-komputer milik staf Busher, tidak mempengaruhi jadwal operasi Busher yang akan berjalan mulai bulan depan.

Sebuah tim, menurut Jafari, sedang berusaha menghapus virus yang berbahaya ini atau dikenal dengan sebutan malware dari beberapa komputer yang terinfeksi. Virus komputer Stuxnet adalah virus pertama yang diyakini dirancang khusus untuk menyerang fasilitas-fasilitas infrastruktur yang besar.

"Perang elektronik sudah dilancarkan terhadap Iran", kata Mahmud Liayi, ketua dewan teknologi informasi di Kementerian Perindustrian Iran kepada koran Iran Daily.

kelompok kerja yang terdiri dari para ahli bertemu minggu lalu untuk membicarakan cara memerangi virus ini yang menurut Liayi, menyusupi sekitar 30.000 alamat Internet Protokol atau IP address di Iran.

Virus Buatan Indonesia Lebih Berbahaya dari Asing

Jumat, 01 Oktober 2010

Virus buatan Indonesia diyakini lebih berbahaya dari produksi asing, karena virus lokal tersebut bisa menghilangkan data file.
“Sementara, virus asing tidak sampai menghilangkan file penting penggunanya. Produsen virus tersebut hanya ingin menunjukkan kelemahan windows yang ada saat ini,” kata Technical Security Consultant, ESET Indonesia, perusahaan di bidang keamanan digital, Yudhi Kukuh, saat dihubungi, di Surabaya, Minggu.

Namun, jelas dia, dari sejumlah virus yang menyebar di seluruh jaringan komputer di dunia, virus asal Indonesia hanya menyumbang 0,1 persen.
“Meski penguasaannya terbilang minim secara internasional, pengguna komputer perlu menyadari pentingnya antivirus untuk melindungi data,” ujarnya.

Sampai saat ini, kata dia, variasi virus di dunia sangat beragam. Akan tetapi, yang kini menjadi tren dan berbahaya adalah virus “configure”. Virus ini sifatnya bisa menggandakan diri, sehingga kini variannya bisa mencapai turunan ke-30 (”configure” varian AQ).
“Mayoritas, selama ini yang menyerang komputer di antaranya `configure generic`, `configure` varian A, dan `configure` varian AA,” katanya.

Sementara, ia mencontohkan, ragam virus lokal yang juga membahayakan data pengguna komputer seperti babon, aksika, “coolface & coolface MP3 player”, W32/Kill AV, pendekar “blank”, pacaran, “blue fantassy”, “Windx-Matrox”.
“Selain itu, ada juga virus amburadul, `FD Shield`, Purwo C, dan Nadia Saphira,” katanya mengungkapkan.

Terkait pengguna antivirus ESET, “Marketing Communications” ESET Indonesia, Chrissie Maryanto, menyatakan, sampai saat ini pasar terbesar sebanyak 60 persen berada di Jakarta, 30 persen di Surabaya, dan 10 persennya menyebar di kota lain.
“Dari jumlah tersebut, segmentasi pasar kami terdiri dari 80 persen kalangan korporasi dan 20 persen pelaku usaha ritel,” katanya.
Khusus di Surabaya, ia siap menembus pasar ritel di kota tersebut. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan peritel yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI). Sementara itu, sejak Agustus ini ia telah memiliki `reseller` di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jember, Bali, Balikpapan, dan Papua.

“Mengenai upaya menarik konsumen, kami memberikan promo Merdeka Dari Virus dengan harga promosi untuk `Home Edition` seperti ESET Antivirus NOD32 yang kini menjadi 24,99 dolar Amerika Serikat (AS), dari harga normal 39,99 dolar AS,” katanya.

Sumber: arfathah.wordpress.com

Langkah Cerdik Menjadi Member Ultimate Vemma